Tampilkan postingan dengan label paper kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paper kampus. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Juni 2013

Dogma kristologi



I.                   Kata pengantar

Ranting ilmu teologi yang akan bicarakan  disini tidak sejak timbulnya di sebut dogmatika. Banyak nama yang di pakai ahli-ahli sebelumnya ada nama dogmatika . antara lain nama teologi.
Tetapi kemudian memperbanyak rantig dalam ilmu teologi yang disebut juga teologis, sehingga masing-masing ranting itu selanjutnya disebut dengan memakai nama sifat, umpanya histotika, raktarika dan seterusnya. Maka nama-nama itu berbunyi toelogi dogamtika yang di singkat dogmatica atau dogamatika. Nama Dogmatika  sekarng lazim  di pakai  meskipun ada beberapa ahli yang memakai nama lain (calvin institutio, lengkapnya : institutio Religionis christianae: pengajaran Agama  kristen)
Ada bebeparapa landasan  penting dalam ajaran agama Nasrani, salah satunya yang paling pokok adalah doktrin trinitas  atau di sebut jga tritunggal, ini merupakan doktrin yang wajib diimani oleh para penganut nasrani (baik itu katolik, protestan maupun ortodok) karena ini adalah tonggak ajaran  ketuhanan mereka
Alkitab adalah buku yang paling banyak dibaca sepanjang waktu. Ia telah diterjemahkan ke dalam tiap-tiap bahasa yang dikenal. Alkitab mempunyai daya tarik yang sama kuat, baik bagi ahli-ahli fisika nuklir maupun orang-orang yang paling sederhana. Namun, kendati popularitasnya begitu hebat, Alkitab juga merupakan buku yang paling banyak diserang diantara segala buku yang pernah ditulis.
Dalam abad ke-20, kritik terhadap Alkitab tidak saja timbul dari luar agama Kristen, melainkan juga dari dalamnya sendiri. Sekarang ini banyak pemikir digaji untuk menjadi pendeta dan guru sekolah tinggi, yang menggunakan banyak waktu mereka untuk menulis dan menerbitkan karangan-karangannya yang mendeskeditkan Alkitab. Mereka berkata bahwa Alkitab hanyalah merupakan suatu koleksi cerita dan ketakhyulan yang “memuat” ajaran Tuhan.[1]
Untuk lebih jelanya lagi di sini penulis akan  membahasnya di bawah, ,mengenai pengertian dogma, sumber,sifat dogma, kristologi batasan dan problema kajianya, dan masih bnayak pembahasan yang akan di bahas pada sub sub berrikutselanjutnya.
II.                Permasalahan  
A.    Pengertian Dogma
B.     Sumber dan Sifat Dogma
C.     Kristologi (batsan dan problematika)
D.    Daftar Pustaka
III.             Pembahasan
A.    Pengertian Dogma
Dogma adalah  pokok ajaran (tentang kepercayaan dsb) yg harus diterima sebagai hal yang benar dan baik, tidak boleh dibantah dan diragukan[2]
Dogma (dari bahasa Yunani, bentuk jamak dalam bahasa Yunani dan Inggris kadangkala dogmata) adalah kepercayaan atau doktrin yang dipegang oleh sebuah agama atau organisasi yang sejenis untuk bisa lebih otoritatif. Bukti, analisis, atau fakta mungkin digunakan, mungkin tidak, tergantung penggunaan.[3]
Perkataan Dogmatika berhubunga denga kata dogma. Dogma adalah kata benda dari kata kerja dokeinnyang berarti menduga mengira , kemudian dogma berarti buah fikiran yang akui oleh suatu golongan di dalam ssuatu ilmu ump, filsafat. Di dalam alkitab perkataan dogma juga terdapat juga, di situ ia berarti, perintah, hukum (luk, 2;1 : Kis < 17 :7   , Ef , 2;15 , Kis, 16;4) terutama arti yang terdapat  dalam Kis 16;4 mirip sekali sama denga arti dogma pada zaman itu.
Dogma di artikan sebagai berikut;
dogama ialah hasil penyelidikan orang percaya tentang firman Tuhan yang di tentukanoleh Gereja dan di perintahkan untuk di percaya”[4]
Ada kesamaan konsep antara dogma dan aksioma yang digunakan sebagai titik awal untuk analisis logika. Aksioma dapat dianggap sebagai konsep dasar atau 'sudah semestinya demikian' sehingga tak terbayangkan orang akan membantahnya. Dogma juga bersifat sangat mendasar (misalkan, dogma bahwa 'Tuhan itu ada') namun juga mencakup himpunan yang lebih besar dari kesimpulan yang membentuk bidang pikiran (keagamaan) (misalkan, 'Tuhan menciptakan alam semesta'). Aksioma adalah pernyataan yang tidak bisa dibuktikan benar atau salah, atau pernyataan yang diterima atas kegunaannya. Dogma mungkin dapat dianggap sebagai sesuatu yang lebih kompleks, sebuah produk dari bukti-bukti lainnya. Filsafat dan teologi menemukan cara untuk membahas semua pernyataan, baik yang diklasifikasikan sebagai aksioma atau dogma.
Dogma keagamaan, yang dipikirkan secara matang, didasarkan kepada bukti-bukti selain dogma itu sendiri dan akhirnya kepada iman. Mungkin puncak uraian terorganisasi dari sebuah dogma teologi adalah Summa Theologica Katolik Roma yang dicetuskan oleh St Thomas Aquinas, yang mengusulkan hubungan antara iman dan penolakan: "Bila lawan kita tidak percaya akan wahyu Tuhan, maka tidak akan ada cara lain untuk membuktikan obyek-obyek iman melalui penalaran, melainkan hanya dengan menjawab penolakannya atau penyangkalannya —bila memang dia memilikinya— terhadap iman atau kepercayaan tersebut" [5]
B.     Sumber dan Sifat Dogma 

 
 
*      Ketentuan dogma
Dogma mempunyai kuasa dan dogma di  tentukan oleh gereja, tetapi apakah dogma menerima kuasa ini dari gereja? Jawab atas pertanyaan ini terang, kalau kita akan ingat sumber akan dogma, hanyalah Alkitablah yang menjadi sumber. Kalau ada anasir di dalam Dogma yanng atak berasal dari Alkitab, maka anasir ini harus di buang, maka dengan demikian harus  di katakan ; letak kepastian dogma adalah pada  Alkitab. Memeang gereja daat menentukan  dogma tetapi  tiap orang percaya boleh membandingkan dogma-dogma dengan kitab suci dan kalau terdapat dogma yang tidak sesuai dengan fiman Tuhan, maka orang harus berusaha supaya dogma itu di buang ata di ubah oleh gereja.
*      Gereja Yang Menentuukan Dogma
Kepada muruid murid, juga jemaat gereja, di berikan anak kunci kerajaan sorga oleh Tuhan  yesus. Ini berarti bahwa ajaran gereja harus menjadi pegangan bagi orang, dan Tuhan yesus berjanji akan melaksanakan ajaran itu (Mat 16;19)
Jemaat gereja juga dis sebut idag Allah yang hidup, suatu tiag da dasar dari pada hal-hal yang benar (1 Tim 3;15). Perkataan –perkataan ”tiang penopang” dan “dasar kebenaran” juga menyatakan bahwa gereja harus menjadi pegangan adalah gereja yang tidak menurut perintah Tuhan sendiri. Di sinilah gereja untuk menentukan pelajaranya.
Doktrin, dogma dan ajaran-ajaran gereja yanng lain selalu muncul dalam situasi masyarakat tertentu. Semua itu mempunyai persoalan tersendiri. Semua rumn usan iman gereja itu adalah sebuah bentuk tanggapan gereja atas pengulatan aman umat dalam  situasi zaman tertentu pula. Oleh sebab itu , gereja zaman sekarang juga tidak boleh tinggal diam . transformasi dalam diri gereja sangatlah di butuhkan . gereja harus terbuka pada dunia , terbuka pada panggilan dasarnya. Mewartakan injil yesus kristus, pertama-tama bukan mendoktrinasi, malainkan mentransformai. Rumusan iman itu mesti di bahas yang tidak mudah . akan tetapi, man yang kuat pada yesus kristus dan dengan bimbingan roh kudus Allah, gereja mampu mewartakan iman itu secara baik dan benar. Justru semakin memahami dan mengenal lebih jauh, kita akansemakin beriman.[6]
C.    Kristologi: batasan dan problematika kajianya
Kristrologi adalah cabang ilmu teologi yang membicarakan tentang posisi yesus kritus di dalam agama Kristen. Makna kristologi bagi umat Kristriani selalu berkembang  dari masa ke masa , dan tidak pernah mengalami tahap selesai, karena selalu di hubungkan dengan konteks uamt Kristiani  oleh para pemikirnya, makna kehadiran Kristus bagi orang kristen yang di yakini sebagai pemelihara dan penyelamat dunia akhirat dengan setiap persoalan hidup Tema-tema seperti feminisme, teologi pembebasan atau kemerdekaan adalah tema-tema  yang saat ini sedang populer  pada zaman modern, di mana umat kristen terus merenungkan makna  kristus itu. Tema-tema itu di sebabkan adanya penindasan  oleh perang “akskluvisme”, kesenjangan sosial di masyarakat, dan sistem negara  yang terkadang tidak adil pada  seluruh ciptaan, termasuk alam. Kristologi yang di hayati dalam kondisi alam yang rusak karena pemanasan global disebut Kristologi Ekologi (hubungan timbal balik antar sesama mkhluk hidup ). Kristologi yang berfokus pada seluruh ciptaan di sebut Kristologi Kosmik, bahkan yesus kristus di uraikan  di berikan diberikan delapan belas gambaran terkait degan budaya adat-istiadat yang terus berubah.[7]
            Pada mulanya pengakuan gereja kristiani di simpulkan  dalam rumusan pendek “yesus adalah Tuhan” atua “yesus adalah kristus”[8]
*      Abad pertama masehi (Kristologi  menurut perjanjian baru)
Kristologi yang di temukan dari injil berpusat pada sejarah kehidupan Yesus dalam tindaka-tindakanya. Hal tersebut  dapat dilihat melalui beberapa pernyataan tokoh-tokoh di dalam kitab-kitab perjanjian baru. Jawaban –jawaban tentang siapa Yesus, adalah sebagai berikut:
-          Paulus : yesus adalah Kristus yang di salibkan denga di bangkitkan
-          Markus: Yesus adalah Mesias
-          Matius : Yesus adalah Musa Baru, pengajar hukum baru
-          Lukas :  Yesus yang penih denga Roh Kudus, adalah juru selamat semua orang.
-          Yohanes : Yesus adalah sabda yang menjelma sebagai manusia.
Yesus pada zamannya di kenal sebagai orang Nazaret yang bertindak revolusioner, sebagai orang yahudi yang melampauin Hukum Taurat. Dari ajaran –ajaranya itulah orang-orang (Kristen) dari zaman perejanjian baru hingga saat ini mempercayainya sebagai Tuhan.
*      Kristologi Abad 2 -11
Pada abad kedua, Kristologi belum terlalu di perdebatkan, namun sudah terdapat banyak pertanyaan  ontologis tentang krtuhanan Yesus. Masyarakat waktu itu ingin sekali mengetahui siapa yesus sebenarya, dalam kaitanya dangan Allah.[9] Kemudian secara hakekat,terdapat tokoh berbnama Arius yang mengatakan bahwa Allah tetap Allah , dan hanya ada satu, Allah tidak mungkin ada bersatu (sehakikatnya) dengan sesuatu yang terbatas. Menyebut yesus “ anak Allah ” sama artinya menghujat Allah karena yang ilahi dan tak terbatas di satukan di satukan dengan yang jasmani dan terbatas.

*      Abad Pertengahan - Reformasi

Selama Abad pertengahan hingga masa reformasi, ajaran tentang Kristus tidak terlalu banyak berubah, ditandai dengan tafsir filsafat saja oleh orang-orang Yunani. Luther dididik dalam teologi Skolastik, namun berkat pengajaran yang ia terima dari Bapa Gereja Agustinus, dia kemudian merencanakan sebuah perubahan besar. Ia menolak Skolastik bukan karena metodenya, namun karena isi ajarannya. Dengan Roma 1:16-17 dia menemukan "Keadilan Allah" (iustitia Dei)di mana menurutnya sudah tidak ada lagi pada Gereja Roma. Keadilah Allah adalah bahwa setiap manusia dihukum sesuai dengan perbuatannya, namun diselamatkan oleh kasih karunia Allah di dalam Kristus. Pengakuan tertinggi bahwa Kristus yang benar itu mampu menyelamatkan manusia yang berdosa sebagai ajaran yang tertinggi.[10]

*      Modern

Teologi memang selalu mengikuti perkembangan, tidak komprehensif namun framentaris, kontekstual, multikultural, dapat diterima oleh budaya setempat. Teologi Kristen yang berpusat pada kristologi juga demikian, perjumpaan dengan Kristus selalu dialami dalam konteks tertentu, mengindahkan kenyataan hidup umat (Kristen) yang dilayani yang berada dalam pluralisme konteks.
Kristologi dalam perjumpaan dengan umat beragama lain dapat membantu umat Kristen membaca Kristus dengan lebih luas, Kristus dalam Filipi 2:7-8 menyatakan Kristus sebagai manusia, bahkan hamba. Ini komentar dari umat Buddha di Srilanka. Dari Umat Islam, Kristus adalah Nabi, mengikuti Yesus berarti mengikuti nabi dan hidup profetis, menjadi saksi Allah dalam berbela rasa terhadap penderitaan mansuia.Kristus bukan milik ekslusif Gereja lagi, namun terbuka bagi kehidupan universal.
Isu-isu pada zaman modern yang harus dijawab oleh Teologi (Kristologi) sangat beragam, pluralisme, kemiskinan, perang, penderitaan, bencana alam dsb. John Hick mengutip pandangan Knitter tentang keunikan Yesus dalam lima hal[11];
1. Agama lain mungkin juga menjadi bagian dari karya Allah yang ingin menyelamatkan manusia, namun tidak senyata-nyata seperti Kristus, agama lain lebih pada kemungkinan-kemungkinan atau probabilitas.
 2. Dalam dialog antar iman: Kristus sebagai wahyu sangatlah kuat, bahkan terus membuka ruang untuk didiskusikan.
3. Allah sungguh-sungguh berkarya dalam Kristus
 4. Kristus Memedulikan keadilan sosial, dan di sini kasih Kristus dilihat secara hubungan mutualis karena kasih-Nya dibutuhkan dalam situasi ini, yaitu sebagai Teologi Pembebasan pembebas. Dalam pandangan Yesus sebagai Anak Allah adalah Juruselamat secara universal.
5. Tuhan sebagai muara akhir yang transenden dan misteri, hal ini melengkapi kriteria Tuhan yang tidak bisa dijangkau manusia. Kristologi sangat bersifat soteriologis kontekstual yang membangun suatu komunitas manusiawi antar iman.  Kristologi juga ditemukan dalam Christo-Praxis dan Christo-doxi yang terus menerus dan kontekstual. Di sini Kristologi dihadapkan pada mamon yaitu kekuatan materialisme yang membawa kehidupan berpusat pada harta benda.
Tokoh yang palinhg banyak berpengaruh adalah Calvin , khususnya terhadap sebagian besar gereja protestan  di indonesia , baik dalam ajaran maupun tata gerejanya. Selanjutnya pada abad ke-17  dan 18  lahir gereja baptis dan metodis  di Eropa. Calvinisme  juga menyebar ke Afrika dan asia pada umumnya dalam bentuk berbagai sekte dan aliran.[12]









D.    Daftar Pustaka
*      Ali, Mukti,Agama –agama dunia cetakan pertama, PT hanindita Offset, yogyakarta; 1988,

*      Soedarmo,R,  Ikhtisar dogmatika cet ke 17, Gunung Mulia, jakarta; 2011,

*      http://id.wikipedia.org/wiki/Kristologi (di akses pada tanggal 13 juni 2013)





*      http://artikel.sabda.org/dogmatika  (di akses pada tanggal 13 juni 2013)

*      http://giafidrisa.blogspot.com/2011/07/kristologi.html  (di akses pada tanggal 13 juni 2013)





[1] http://artikel.sabda.org/dogmatika
[2] Berdasarkan kamus besar bahas indonesia
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Dogma
[4] R. Soedarmo, Ikhtisar dogmatika cet ke 17, Gunung Mulia, jakarta; 2011, hal 3-4
[5] http://id.wikipedia.org/wiki/Dogma
[6] Ibid hal 6
[7] http://id.wikipedia.org/wiki/kristologi
[8] Mukti Ali, Agama –agama dunia cetakan pertama, PT hanindita Offset, yogyakarta; 1988, h 404
[9] http://giafidrisa.blogspot.com/2011/07/kristologi.html
[10] http://id.wikipedia.org/wiki/Kristologi
[11]http://books.google.co.id/books?id=Bhd_gRTZGtEC&pg=PA140&lpg=PA140&dq=sumber+dan+sifat+dogma&source=bl&ots=qQ4XO_VcVt&sig=pvmR0nL3-1bAkgPrRFHcmQsncvg&hl=id&sa=X&ei=Qra6UZiMDMi5rgeKwICACQ&redir_esc=y#v=onepage&q=sumber%20dan%20sifat%20dogma&f=false
[12] Mukti Ali, Agama –agama dunia cetakan pertama, PT hanindita Offset, yogyakarta; 1988, h  398 (paragraf ke3)

Sabtu, 08 Juni 2013

Perkembanga Peberagamaan Deawasa dan Lansia



A.    Pendahuluan

Psikologi agama terdiri dari dua paduan kata, yakni psikologi dan agama. Kedua kata ini mempunyai makna yang berbeda. Psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab. Sedangkan agama memiliki sangkut paut dengan kehidupan batin manusia. Menurut Harun Nasution, agama berasal dari kata Al Din yang berarti undang-undang atau hukum, religi (latin) atau relegere berarti mengumpulkan dan membaca. Kemudian religare berarti mengikat. Dan kata agama terdiri dari "a"; tidak, "gama"; pergi yang berarti tetap di tempat atau diwarisi turun menurun
Dari definisi tersebut, psikologi agama meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku, serta keadaaan hidup pada umumnya, selain itu juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada seseorang, serta faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut.[1]
Dengan melihat pengertian psikologi dan agama dapatlah diambil pengertian bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari serta keadaan hidup pada umumnya. Untuk itu penulis akan mencoba memaparkan tentang, perkembangan jiwa keagamaan orang dewasa serta faktor-faktor yang. mempengaruhi perkembangan keagamaan tersebut.
Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai mati, yang ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang semakin menurun.  Adapun ciri-ciri yang berkaitan dengan penyesuaian pribadi dan sosialnya adalah sebagai berikut; perubahan yang menyangkut kenumpuan motorik, perubahann kekuatan fisik, perubahan dalam fungsi psikologis, perubahan dalam sistem syaraf, perubahan penampilan.
Tingkah laku keagamaan orang dewasa memiliki perspektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya. Selain itu tinghkah laku itu umumnya juga dilandasi oleh pendalaman pengertian dan keluasan pemahaman tentang ajaran agama yang dianutnya.[2]


B.     Rumusan Masalah

I.       Pengertian Dewasa
II.    Perkembangan jiwa keagamaan pada masa dewasa
III. Pengertian lansia / usia lanjut
IV. Perkembangan jiwa keagamaan pada masa usia lanjut

C.    Pembahasan
I.                   Pengertian dan ciri-ciri kedewasaan

Saat telah menginjak usia dewasa terlihat adanya kematangan jiwa mereka; “Saya hidup dan saya tahu untuk apa,” menggambarkan bahwa di usia dewasa orang sudah memiliki tanggung jawab serta sudah menyadari makna hidup[3]. Dengan kata lain, orang dewasa nilai-nilai yang yang dipilihnya dan berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai yang dipilihnya. Elizabeth B. Hurlock membagi masa dewasa menjadi tiga bagian[4]:

a. Masa dewasa awal (masa dewasa dini/young adult)

Masa dewasa awal adalah masa pencaharian kemantapan dan masa reproduktif yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional, priode isolasi social, priode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai, kreativitas dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru. Kisaran umurnya antara 21 tahun sampai 40 tahun.

b. Masa dewasa madya (middle adulthood)
Masa dewasa madya ini berlangsung dari umur empat puluh sampai enam puluh tahun. Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan social antara lain; masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan prilaku masa dewasanya dan memasuki suatu priode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan prilaku yang baru. Perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan social.

II.                Perkembangan jiwa keagamaan pada masa dewasa

Ø  Karakteristik Sikap Keberagamaan Pada Masa Dewasa
Sejalan dengan tingkat perkembangan usianya, maka sikap keberagamaan pada orang dewasa antara lain memiliki cirri sebagai berikut[5]
Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut-ikutan.
  • Cenderung bersifat realitas, sehinggga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku.
  • Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama, dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan.
  • Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup.
  • Bersikap lebih terbuaka dan wawasan yang lebih luas.
  • Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran, juga didasarkan atas pertimbangan hati nurani.
  • Sikap keberagamaan cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing, sehingga terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami serta melaksanakan ajaran agama yang diyakininya.
  • Terlihat adanya hubungan antar sikap keberagamaan dengan kehidupan social, sehingga perhatian terhadap kepentingan organisasi sosial keagamaan sudah berkembang.
Ø  Masalah-masalah Keberagamaan Pada Masa Dewasa
Seorang ahli psikologi Lewis Sherril, membagi masalah-masalah keberagamaan pada masa dewasa sebagai berikut;
a.        Masa dewasa awal, masalah yang dihadapi adalah memilih arah hidup yang akan diambil dengan menghadapi godaan berbagai kemungkinan pilihan.
b.      Masa dewasa tengah, masalah sentaral pada masa ini adalah mencapai pandangan hidup yang matang dan utuh yang dapat menjadi dasar dalam membuat keputusan secara konsisten.
c.       Masa dewasa akhir, ciri utamanya adalah ‘pasrah’. Pada masa ini, minat dan kegiatan kurang beragama. Hidup menjadi kurang rumit dan lebih berpusat pada hal-hal yang sungguh-sungguh berarti. Kesederhanaan lebih sangat menonjol pada usia tua.

Ø  Tipe Orang yang Sakit Jiwa (The Sick Soul)

Menurut William James,sikap keberagamaan orang yang sakit jiwa ini ditemui pada mereka yang pernah mengalami latar belakang kehidupan keagamaan yang terganggu. Maksudnya orang tersebut meyakini suatu agama dan melaksanakan ajaran agama tidak didasarkan atas kematangan beragama yang berkembang secara bertahap sejak usia kanak-kanak hingga menginjak usia dewasa seperti lazimnya yang terjadi pada perkembangan secara normal. Mereka meyakini suatu agama dikarenakan oleh adanya penderitaan batin antara lain mungkin diakibatkan oleh musibah, konflik batin ataupun sebab lainnya yang sulit diungkapkan secara ilmiah.
Adapun ciri-ciri tindak keagamaan mereka yang mengalami kelainan kejiwaan itu umumnya cenderung menampilkan sikap:[6]
- Pesimis
Dalam mengamalkan ajaran agama mereka cenderung bersikap pasrah diri kepada nasib yang telah mereka terima.
- Intovert
Sifat pesimis membawa mereka untuk bersikap objektif. Segala marabahaya dan penderitaan selalu dihubungkannya dengan kesalahan diri dan dosa yang telah diperbuat.
- Menyenagi paham yang ortodoks.
Sebagai pengaruh sifat pesimis dan introvert kehidupan jiwanya menjadi pasif. Hal ini lebih mendorong mereka untuk menyenangi paham keagamaan yang lebih konservatif dan ortodoks.

Ø  Tipe Orang yang Sehat Jiwa (Healthy-Minded-Ness)

Ciri dan sifat agama pada orang yang sehat jiwa menurut W. Starbuck yang dikemukakan oleh W. Houston Clark dalm bukunya Religion Psychology adalah:[7]
Optimis dan gembira
Orang yang sehat jiwa menghayati segala bentuk ajaran agama dengan perasaan optimis. Pahala menurut pandangannya adalah sebagai hasil jerih payah yang diberikan Tuhan. Sebaliknya, segala bentuk musibah dan penderitaan yang dianggap sebagai keteledoran dan kesalahan yang dibuatnya dan tidak beranggapan sebagai peringatan Tuhan terhadap dosa manusia.
Ektrovet dan tak mendalam
Sikap optimis dan terbuka yang dimiliki orang yang sehat jasmani ini menyebabkan mereka mudah melupakankesan-kesan buruk dan luka hati yang tergores sebagai ekses agamis tindakannya.
Menyenagi ajaran ketauhidan yang liberal
Sebagai pengaruh kepribadaian yang ekstrovet maka mereka cenderung;
a.       Menyenangi teologi yang luwes dan tidak kakuk
b.      Menunjukkan tingkah laku keagamaan yang lebih bebas
c.       Mempelopori pembelaan terhadap kepentingan agama secara sosial.
Ø  Perkembangan jiwa keagamaan pada masa dewasa

a.    Masa dewasa awal, masalah yang dihadapi adalah memilih arah hidup yang akan diambil dengan menghadapi godaan berbagai kemungkinan pilihan.
b.     Masa dewasa tengah, masalah sentaral pada masa ini adalah mencapai pandangan hidup yang matang dan utuh yang dapat menjadi dasar dalam membuat keputusan secara konsisten.
c.      Masa dewasa akhir, ciri utamanya adalah ‘pasrah’. Pada masa ini, minat dan kegiatan kurang beragama. Hidup menjadi kurang rumit dan lebih berpusat pada hal-hal yang sungguh-sungguh berarti. Kesederhanaan lebih sangat menonjol pada usia tua.

III.             Pengertian lansia / usia lanjut

lanjut usia (lansia) menurut UU Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia pasal 1 ayat 2 adalah seseorang yang telah mencapai usia enam puluh tahun ke atas. Selanjutnya pada pasal 5 ayat 1 disebutkan bah wa lanjut usia mempunyai hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pasal 6 ayat 1 menyatakan bahwa lanjut usia mempunyai kewajiban yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.[8]
Manusia usia lanjut dalam penilaian banyak orang adalah manusia yang tidak produktif lagi. Kondisi fisik rata-rata sudah menurun sehingga dalam kondisi yang uzur ini berbagai penyakit siap menggorogoti mereka. Dengan demikian, di usia lanjut ini terkadang muncul semacam pemikiran bahwa mereka barada pada sisa-sisa umur menunggu kematian
Dari ayat-ayat itu jelas, lansia seperti halnya warga negara yang lain memiliki hak dan kewajiban sama dengan warga negara lain yang belum memasuki usia lanjut.[9]

IV.             Perkembangan jiwa keagamaan pada masa usia lanjut

Ø  Perkembangan jiwa keagamaan pada masa usia lanjut
Masalah-masalah keberagamaan pada masa masa ini, minat dan kegiatan beragama. Hidup menjadi kurang rumit dan lebih berpusat pada hal-hal yang sungguh-sungguh berarti. Kesederhanaan lebih sangat menonjol pada usia tua[10].

Ø  Ciri- Ciri Keagamaan Pada Usia Lanjut
Secara garis besar ciri- ciri keberagamaan di usia lanjut adalah:
-   Kehidupan keagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan
-      Meningkatnya kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan.
-      Mulai muncul pengakuan terhadap relitas tentang kehidupan akherat secara lebih sungguh- sungguh.
-     Sikap keagamaan cenderung mengarah kepada kebutuhan saling cinta antara sesama manusia serta sifat- sifat luhur.
-      Timbul rasa takut kepada kematian yang meningkat sejalan dengan pertambahan usia lanjutnya.
-       Perasaan takut pada kematian ini berdampak pada peningkatan pembentukan sikap keagamaan dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan abadi (akherat).[11]
Ø  Kriteria Orang yang Matang dalam Beragama

Kemampuan seseorang untuk mengenali atau memahami nilai agama yang terletak pada nilai-nilai luhurnya serta menjadikan nilai-nilai dalam bersikap dan bertingkah laku merupakan ciri dari kematangan beragama. Jadi, kematangan beragama terlihat dari kemampuan seseorang untuk memahami, menghayati serta serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari.[12]














Daftar Pustaka
·         Ali ash shoubouny, shafwat al – tafsir, ( Beirut: jami’ al huquq al mahfudhah, 1980)
·         Jalaludin. Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007
·         Sururin Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004
·         Partini Suardiman Kepala Pusat Studi Sumberdaya Lansia UNY
·         Rita Atkinson, Introduction To Psychology, ( new York:  Harcourt brace javanovich, 1993)
·        
http://makalahzaki.blogspot.com/2011/10/perkembangan-jiwa-keagamaan-pada-masa.html  di akses pada tanggal 22 april 2013
·         http://buntexz.blogspot.com/2012/02/psikologi-agama-pada-dewasa-dan-lansia.html di akses pada tanggal 20 april 2013







[1] http://buntexz.blogspot.com/2012/02/psikologi-agama-pada-dewasa-dan-lansia.html
[2] Rita Atkinson, Introduction To Psychology, ( new York:  Harcourt brace javanovich, 1993), h 67

[3] Prof. Dr. H. Jalaludin. Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007 hal. 105
[4] Sururin, M.Ag. Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004 hal. 83

[5] Ibid   hal. 107- 108

[6] Ibid  hal. 126

[7] Prof. Dr. H. Jalaludin. Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007 hal. 130

[8] Partini Suardiman Kepala Pusat Studi Sumberdaya Lansia UNY
[9] Ali ash shoubouny, shafwat al – tafsir, ( Beirut: jami’ al huquq al mahfudhah, 1980)

[10] http://makalahzaki.blogspot.com/2011/10/perkembangan-jiwa-keagamaan-pada-masa.html
[11] http://ebookbrowse.com/makalah-psikologi-agama-tentang-perkembangan-jiwa-beragama-bagi-usia-lanjut-pdf-d338281074
[12] http://renizhu.wordpress.com/2011/06/28/perkembangan-jiwa-keagamaan-pada-orang-dewasa-dan-lansia/